Pagi hari gue lagi ngotak atik komputer
jadul, dan gue menemukan ini cerpen. Setelah gue baca ulang, gue malah
ngakak sendiri. Cerpen ini gue tulis waktu kelas 3 SMP, ya dari cerpen
ini, bisa dipastikan saat itu gue alay maksimal. hahaha Oke langsung saja tanpa basa basi, check this out!!
Persahabatan Penuh
Tantangan
Namaku Riya, aku seorang pelajar
SMP yang sederhana, tidak begitu cantik, dan cukup normal. Aku memiliki
sahabat-sahabat yang cukup istimewa, yaitu Putri dan Tari. Mereka mempunyai
karakter yang sangat berbeda. Putri adalah seorang siswa yang sangat pintar dan
lumayan cantik, hampir setiap hari dia mengunjungi perpustakaan sekolah untuk
membaca buku. Berbeda dengan Tari, dia adalah seorang remaja yang super cantik
(seminggu sekali dia pergi ke salon untuk ganti model rambut, sampai-sampai dia
sering dijuluki Miss Fashion), dan dia tidak begitu pintar. Tetapi mereka mempunyai satu kesamaan yaitu sama-sama keras
kepala.
Pada suatu pagi, kami berangkat
ke sekolah bersama.
“Waw,, kau terlihat
sempurna dengan model rambut barumu itu,,” kataku kagum
“Iya sih, tapi belum
sepenuhnya sempurna..” jawab Tari
“Maksud loh??” tanya Putri
“Aku belum ngerjain PR,,”
jawab Tari
“Ckckckckk, cantik-cantiik
belum ngerjain PR, kasiaan…” ejekku
“Hemm,,Put, aku pinjam PR
matematikamu dong...” pinta Tari
“Apa-apaan kamu ini!!! PR
itu harus dikerjakan sendiri!!!” bentak Putri
“Huuuh,,, pelit sekali
dirimu itu... Ri, aku pinjam ama kamu aja ya???” tanya Tari
“Jangan, termakan
omongannya Ri… M.E.N.Y.E.S.A.T.K.A.N” kata Putri
“Tari,, betul banget apa
yang dikatakan Putri, aku tidak pelit, tapi ini demi kebaikanmu juga…” kataku
menasehati
“Huh,, ya sudahlah…. Aku
akan mengerjakannya sendiri di kelas nanti.” kata Tari dengan kesal.
“Hey,, inikan PR bukan
PS…” ejek Putri.
“Biarkanlah anjing
menggonggong…” balas Tari
“Apa?? kau menyamakanku
dengan anjing?? tolong ulangi, aku mau dengar sekali lagi… biar kau rasakan
digigit anjing…” kata Putri tak mau kalah
“Hahahahahahahaha…” kami
bertiga tertawa bersama.
Saat sampai di kelas, kami
sangat heran mengapa para siswa yang sekelas dengan kami membersihkan
lingkungan kelas, padahal hari ini kami yang bertugas piket. Kami segera
menghampiri Ari, seorang cowok yang paling rajin membersihkan kelas dalam regu
piket kami.
“Ar, memangnya akan ada
acara apa???” tanyaku
“ Tidak ada acara
apa-apa…” jawabnya singkat
“Lalu???” tanya Tari
“Kalian tak lihat???” Ari
balik tanya
“Lihat apa???” tanya Tari
lebih penasaran
“Dia…” kata Ari sambil
melirik ke arah Bu Yati, seorang guru yang sangat menakutkan, apalagi kalau dia
sedang marah kepada muridnya, dia akan membuat sang murid seperti di neraka
dengan semua omelan-omelannya.
“Hahh…mati kita!!!” kataku
kaget
“Kau saja yang maju Put,,
kami akan di belakangmu, untuk jaga-jaga jika kau sudah tak sanggup menerima
omelan darinya.” kata Tari takut
“Baiklah, ku terima tawaranmu…”
kata Putri percaya diri
Kami menghampiri Bu Yati,
seperti langkah pasukan yang akan menghadapi perang. Aku hanya bisa pasrah
dengan takdir ini.
“Selamat pagi, bu…” sapa
kami dengan kompak
“Bukankah ini sudah siang…”
jawab Bu Yati dengan sadis
“Ini baru pukul 07.15
bu,,” kata Putri membela diri
“Oh yaa??? kalian kan
piket hari ini, kenapa datang terlambat???” tanya Bu Yati
“Ada banyak kendala
dijalan, bu,,” kata Putri
“Huh, alasan!!” bentak Bu
Yati
“Bukankah kemarin ibu juga
terlambat?? kemarin ibu sampai sekolah pukul delapan, berarti lebih terlambat
daripada keterlambatan kami, benarkan??” tanya Putri dengan PDnya
Bu Yati terkejut, dia
berfikir bahwa dia sudah kalah, dan langsung meninggalkan kelas kami.
“Hahahahaha… hebat sekali
Put…” kataku dengan gembira
“Tapi sepertinya Bu Yati
jadi semakin benci dengan kita.” kata Putri sedih
“Tak masalah, yang penting
happy!!” teriak Tari dengan semangat 45nya
Saat istirahat tiba, Tari
bersiap-siap untuk mengerjakan PR matematikanya. Tapi alangkah gembiranya Tari
ketika mendengar berita bahwa guru matematika sedang pergi dan hari ini tidak
mengajar. Tari langsung pergi ke kantin dan berbincang denganku.
“Riya…..” panggil Tari
dengan merdu
“Oyy… ada apakah gerangan
dikau, sehingga memanggilku begitu merdu???” tanyaku mengejek
“Aku sedang sangat sangat
senang...” jawab Tari dengan senyum lebar
“Baguslah kalau begitu,
jika kau senang kau tidak akan membuatku susah…” jawabku dengan penuh
ketentraman
“Oh ya, dimana Putri?? Aku
tidak melihatnya dari tadi…” tanya Tari sedikit penasaran
“Seperti biasanya, dia
adalah penunggu setia, perpustakaan sekolah…” jawabku dengan ringan
“Dia betah sekali di
perpustakaan, padahal kalau aku ke perpustakaan malah jadi pusing…” kata Tari
“Kenapa bisa pusing??”
tanyaku
“Mungkin karena aku
melihat bermacam-macam buku, buku tebal pula. Sampai akhirnya aku bingung mau
membaca buku yang mana…” jelas Tari
“Hahahahahahahaha…..” kami
tertawa bersama
Sampai di kelas kami
mendengar gosip news yang intinya memuji-muji Putri. Aku senang mendengarnya,
tetapi Tari terlihat sangat iri. Tari pun bilang kalau Putri cuma pintar saja,
tidak cantik seperti dia. Tiba-tiba Putri sudah ada di belakang kami dan mendengar
semua perkataan Tari, Putri sangat sedih. Mereka jadi bermusuhan. Bahkan mereka
mengadakan pertandingan “barang siapa yang bisa menjadi cewek cantik dan pintar”
dialah yang menang, mereka sepakat bahwa waktunya cuma dua minggu, dan mereka
memilih aku sebagai jurinya.
Aku merasakan hal buruk
akan terjadi dengan persahabatan kami. Karena terlalu memikirkan hal itu aku
jatuh sakit. Aku sangat kecewa pada sahabat-sahabatku. Tidak seorangpun dari
mereka yang menjengukku, padahal rumah mereka cukup berdekatan. Sahabat macam
apa mereka itu.
Aku masuk kembali ke sekolah
dengan kepala sedikit pusing dan langsung memarahi mereka, karena tidak pergi
menjengukku. Ternyata mereka sudah memulai pertandingan tanpa sepengetahuanku.
Sekarang Tari sering pergi ke perpustakaan untuk membaca buku agar sepintar
Putri, terlihat aneh tapi tak apa-apa itu hal yang positif. Putri sekarang
terlihat lebih cantik dari biasanya, dia membawa kaca kemana-mana, dan berkaca
15 menit sekali. Aku bingung mau mendukung siapa, jadi aku golput saja. Pada
mulanya aku membantu mereka dengan ikhlas tetapi lama kelamaan aku jadi kesal
dengan mereka. Mereka menyuruhku mengambil berbagai macam barang yang mereka
butuhkan. Mulai dari buku, kaca, kamus, sisir, ensiklopedia, tali rambut, dll.
Aku berfikir, kalau tiap hari begini, aku akan senasib dengan Cinderella yang sedang
disiksa oleh saudara-saudara tirinya yang sangat kejam, menyebalkan, dan
sombong seperti di dongeng sebelum tidur. Aku tidak akan membiarkan hal itu
terjadi, so, aku memutuskan untuk mengadakan rapat.
“Sahabat-sahabatku
tersayang, yang paling cantik dan paling pintar.” kataku dengan kesal
“Itu pasti aku” kata Tari
dengan PD
“Huhh,, sombong sekali
dirimu itu!!!” ejek Putri
“Tolong diamlah sebentar, aku yang mau bicara bukan
kalian!!!” bentakku
“Ya silahkan saja…” balas
Tari
“Aku berusaha membantu
kalian, tetapi kalian malah membuatku menjadi seorang pembantu. Sungguh tidak
berperi kemanusiaan. Oh iya, saat aku sakit, apa kalian menjengukku??” kataku
dengan emosi
“He,,Ini semua gara-gara
Putri, coba kalau dia mengaku kalah, pasti hal ini tidak akan terjadi.” kata
Tari menimpakan kesalahan kepada Putri
“Kenapa gara-gara aku? Ini
juga kesalahanmu!” kata Putri membela diri
“Cukup!!! Aku menyerah!!!
kalian sama-sama keras kepala!!!” kataku putus asa dan langsung pulang ke rumah
Saat kembali masuk
sekolah, aku melihat Tari. Sekarang dia tidak peduli dengan fashion lagi,
rambutnya tidak disisir rapi seperti dulu dan lebih mementingkan belajarnya .
Beda dengan Putri, dia selalu memerhatikan fashionnya, tetapi sekarang dia menjadi
siswa yang malas belajar.
Dua minggu telah berlalu,
aku stres memilih siapa yang akan menjadi juara karena mereka berdua adalah
sahabatku.
“Sahabat-sahabatku yang
tercinta, aku akan mengumumkan hasil dari pertandingan yang telah kalian lalui.”
kataku dengan hati bimbang
“Tidak usah bertele-tele,
langsung saja pada intinya…” kata Tari tidak sabar
“Baiklah, aku pikir kalian
tidak menjalankan pertandingan ini dengan sempurna.” kataku dengan kecewa
“Bagaimana bisa seperti
itu?” tanya Putri
“Coba kalian lihat diri
kalian sendiri. Putri tidak memerhatikan fashionnya dan hanya fokus dengan
belajarnya. Sedangkan Putri tidak memerhatikan belajarnya dan hanya fokus
dengan fashionnya. Jadi hasilnya imbang.” jelasku
“Huu… juri macam apa kamu
itu Ri!!!” kata Tari menyalahkanku
“Kalau kalian tidak puas,
ya terserah!!!” bentakku
Di rumah, aku menangis
penuh kesedihan. Aku tambah bersedih
ketika keluargaku memutuskan untuk pergi ke kota demi pekerjaan ayah dan
aku disarankan untuk ikut karena menurut mereka sekolah di kota lebih terjamin
kualitasnya. Apa aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku. Walaupun mereka
telah memperlakukanku tidak baik, mereka tetaplah sahabatku. Aku akan
mengumpulkan mereka di rumahku, akan berpisahan dengan mereka, dan itu sudah
cukup menyedihkan untuk membuat mereka kembali seperti dulu lagi.
“Aku mengumpulkan kalian
disini, hanya untuk berpisahan dengan kalian.” kataku sedih
“Memangnya kau mau kemana Ri?”
tanya Putri
“Aku akan pergi jauh”
jawabku singkat
“Dan kau akan melupakan
kami?” tanya Tari
“Mungkin,” jawabku dengan
sedikit bimbang
“Apa kau tak bisa tinggal
lebih lama?” tanya Putri
“Aku bisa tinggal lebih
lama.”
“Lalu kenapa kau memilih
untuk pergi?”
“Bagaimana aku bisa tetap
tinggal, kalau tak ada keluarga ataupun sahabat di sisiku. Kalian mengaku sebagai
sahabatku, tetapi kenyataannya!! Kalian malah sering membuat aku sedih.”
jelasku panjang lebar.
Mereka tertegun dengan
ucapanku dan langsung minta maaf kepadaku.
“Maafkan kami Ri,, kami
sangat menyesal…” kata Putri
“Iya Ri,,apa yang bisa
kami lakukan agar kau tidak pergi Ri?”
“Aku ingin kalian kembali
seperti dulu lagi…apa kalian bisa?”
“Kami akan berusaha!!”
kata mereka dengan kompak
Kami berpegang tangan dan
saling berpelukan dengan haru dan gembira. Karena sangat haru, aku menangis dan
menghabiskan satu kotak tisu.
“Ri, jangan kau habiskan
tisunya, aku nanti juga mau nangis, aku tidak kebagian dong,” kata Putri
mengejekku
“Sudahlah Put, jangan cari
gara-gara.” kata Tari
“Hahahahahaha…” akhirnya
kami tertawa seperti dulu lagi
Tari mulai menyanyi tak jelas,
tapi akhirnya kami bernyanyi bersama-sama dengan tentram. Lagunya Mitha “Tentang Mimpiku”.
*Aku berjanji sampai tua
nanti
Akan selalu ada jika kau butuh
Dan bila nanti dunia tak mengerti
Berpalinglah padaku
Tempat teraman untuk dirimu
*Kau tak sendiri
Ku selalu bersamamu
Temani aku
Sampai habisnya waktu
~^THE END^~
*Jangan berjalan
dibelakangku, karena aku tak sanggup membawamu
*Jangan juga berjalan
didepanku, karena aku tak sanggup mengejarmu
*Berjalanlah disampingku
karena engkau adalah sahabatku
So, jagalah sahabatmu agar
tak menghilang dari kehidupanmu
Sekian