Sabtu, 31 Mei 2014

Cerpen Alay



Pagi hari gue lagi ngotak atik komputer jadul, dan gue menemukan ini cerpen. Setelah gue baca ulang, gue malah ngakak sendiri. Cerpen ini gue tulis waktu kelas 3 SMP, ya dari cerpen ini, bisa dipastikan saat itu gue alay maksimal. hahaha Oke langsung saja tanpa basa basi, check this out!!

Persahabatan Penuh Tantangan 

Namaku Riya, aku seorang pelajar SMP yang sederhana, tidak begitu cantik, dan cukup normal. Aku memiliki sahabat-sahabat yang cukup istimewa, yaitu Putri dan Tari. Mereka mempunyai karakter yang sangat berbeda. Putri adalah seorang siswa yang sangat pintar dan lumayan cantik, hampir setiap hari dia mengunjungi perpustakaan sekolah untuk membaca buku. Berbeda dengan Tari, dia adalah seorang remaja yang super cantik (seminggu sekali dia pergi ke salon untuk ganti model rambut, sampai-sampai dia sering dijuluki Miss Fashion), dan dia tidak begitu pintar. Tetapi mereka  mempunyai satu kesamaan yaitu sama-sama keras kepala.

Pada suatu pagi, kami berangkat ke sekolah bersama.
“Waw,, kau terlihat sempurna dengan model rambut barumu itu,,” kataku kagum
“Iya sih, tapi belum sepenuhnya sempurna..” jawab Tari
“Maksud loh??” tanya Putri
“Aku belum ngerjain PR,,” jawab Tari
“Ckckckckk, cantik-cantiik belum ngerjain PR, kasiaan…” ejekku
“Hemm,,Put, aku pinjam PR matematikamu dong...” pinta Tari
“Apa-apaan kamu ini!!! PR itu harus dikerjakan sendiri!!!” bentak Putri
“Huuuh,,, pelit sekali dirimu itu... Ri, aku pinjam ama kamu aja ya???” tanya Tari
“Jangan, termakan omongannya Ri… M.E.N.Y.E.S.A.T.K.A.N” kata Putri
“Tari,, betul banget apa yang dikatakan Putri, aku tidak pelit, tapi ini demi kebaikanmu juga…” kataku menasehati
“Huh,, ya sudahlah…. Aku akan mengerjakannya sendiri di kelas nanti.” kata Tari dengan kesal.
“Hey,, inikan PR bukan PS…” ejek Putri.
“Biarkanlah anjing menggonggong…” balas Tari
“Apa?? kau menyamakanku dengan anjing?? tolong ulangi, aku mau dengar sekali lagi… biar kau rasakan digigit anjing…” kata Putri tak mau kalah
“Hahahahahahahaha…” kami bertiga tertawa bersama.

Saat sampai di kelas, kami sangat heran mengapa para siswa yang sekelas dengan kami membersihkan lingkungan kelas, padahal hari ini kami yang bertugas piket. Kami segera menghampiri Ari, seorang cowok yang paling rajin membersihkan kelas dalam regu piket kami.
“Ar, memangnya akan ada acara apa???” tanyaku
“ Tidak ada acara apa-apa…” jawabnya singkat
“Lalu???” tanya Tari
“Kalian tak lihat???” Ari balik tanya
“Lihat apa???” tanya Tari lebih penasaran
“Dia…” kata Ari sambil melirik ke arah Bu Yati, seorang guru yang sangat menakutkan, apalagi kalau dia sedang marah kepada muridnya, dia akan membuat sang murid seperti di neraka dengan semua omelan-omelannya.
“Hahh…mati kita!!!” kataku kaget
“Kau saja yang maju Put,, kami akan di belakangmu, untuk jaga-jaga jika kau sudah tak sanggup menerima omelan darinya.” kata Tari takut
“Baiklah, ku terima tawaranmu…” kata Putri percaya diri
Kami menghampiri Bu Yati, seperti langkah pasukan yang akan menghadapi perang. Aku hanya bisa pasrah dengan takdir ini.
“Selamat pagi, bu…” sapa kami dengan kompak
“Bukankah ini sudah siang…” jawab Bu Yati dengan sadis
“Ini baru pukul 07.15 bu,,” kata Putri membela diri
“Oh yaa??? kalian kan piket hari ini, kenapa datang terlambat???” tanya Bu Yati
“Ada banyak kendala dijalan, bu,,” kata Putri
“Huh, alasan!!” bentak Bu Yati
“Bukankah kemarin ibu juga terlambat?? kemarin ibu sampai sekolah pukul delapan, berarti lebih terlambat daripada keterlambatan kami, benarkan??” tanya Putri dengan PDnya
Bu Yati terkejut, dia berfikir bahwa dia sudah kalah, dan langsung meninggalkan kelas kami.
“Hahahahaha… hebat sekali Put…” kataku dengan gembira
“Tapi sepertinya Bu Yati jadi semakin benci dengan kita.” kata Putri sedih
“Tak masalah, yang penting happy!!” teriak Tari dengan semangat 45nya

Saat istirahat tiba, Tari bersiap-siap untuk mengerjakan PR matematikanya. Tapi alangkah gembiranya Tari ketika mendengar berita bahwa guru matematika sedang pergi dan hari ini tidak mengajar. Tari langsung pergi ke kantin dan berbincang denganku.
“Riya…..” panggil Tari dengan merdu
“Oyy… ada apakah gerangan dikau, sehingga memanggilku begitu merdu???” tanyaku mengejek
“Aku sedang sangat sangat senang...” jawab Tari dengan senyum lebar
“Baguslah kalau begitu, jika kau senang kau tidak akan membuatku susah…” jawabku dengan penuh ketentraman
“Oh ya, dimana Putri?? Aku tidak melihatnya dari tadi…” tanya Tari sedikit penasaran
“Seperti biasanya, dia adalah penunggu setia, perpustakaan sekolah…” jawabku dengan ringan
“Dia betah sekali di perpustakaan, padahal kalau aku ke perpustakaan malah jadi pusing…” kata Tari
“Kenapa bisa pusing??” tanyaku
“Mungkin karena aku melihat bermacam-macam buku, buku tebal pula. Sampai akhirnya aku bingung mau membaca buku yang mana…” jelas Tari
“Hahahahahahahaha…..” kami tertawa bersama

Sampai di kelas kami mendengar gosip news yang intinya memuji-muji Putri. Aku senang mendengarnya, tetapi Tari terlihat sangat iri. Tari pun bilang kalau Putri cuma pintar saja, tidak cantik seperti dia. Tiba-tiba Putri sudah ada di belakang kami dan mendengar semua perkataan Tari, Putri sangat sedih. Mereka jadi bermusuhan. Bahkan mereka mengadakan pertandingan “barang siapa yang bisa menjadi cewek cantik dan pintar” dialah yang menang, mereka sepakat bahwa waktunya cuma dua minggu, dan mereka memilih aku sebagai jurinya.

Aku merasakan hal buruk akan terjadi dengan persahabatan kami. Karena terlalu memikirkan hal itu aku jatuh sakit. Aku sangat kecewa pada sahabat-sahabatku. Tidak seorangpun dari mereka yang menjengukku, padahal rumah mereka cukup berdekatan. Sahabat macam apa mereka itu.
Aku masuk kembali ke sekolah dengan kepala sedikit pusing dan langsung memarahi mereka, karena tidak pergi menjengukku. Ternyata mereka sudah memulai pertandingan tanpa sepengetahuanku. Sekarang Tari sering pergi ke perpustakaan untuk membaca buku agar sepintar Putri, terlihat aneh tapi tak apa-apa itu hal yang positif. Putri sekarang terlihat lebih cantik dari biasanya, dia membawa kaca kemana-mana, dan berkaca 15 menit sekali. Aku bingung mau mendukung siapa, jadi aku golput saja. Pada mulanya aku membantu mereka dengan ikhlas tetapi lama kelamaan aku jadi kesal dengan mereka. Mereka menyuruhku mengambil berbagai macam barang yang mereka butuhkan. Mulai dari buku, kaca, kamus, sisir, ensiklopedia, tali rambut, dll. Aku berfikir, kalau tiap hari begini, aku akan senasib dengan Cinderella yang sedang disiksa oleh saudara-saudara tirinya yang sangat kejam, menyebalkan, dan sombong seperti di dongeng sebelum tidur. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, so, aku memutuskan untuk mengadakan rapat.
“Sahabat-sahabatku tersayang, yang paling cantik dan paling pintar.” kataku dengan kesal
“Itu pasti aku” kata Tari dengan PD
“Huhh,, sombong sekali dirimu itu!!!” ejek Putri
“Tolong  diamlah sebentar, aku yang mau bicara bukan kalian!!!” bentakku
“Ya silahkan saja…” balas Tari
“Aku berusaha membantu kalian, tetapi kalian malah membuatku menjadi seorang pembantu. Sungguh tidak berperi kemanusiaan. Oh iya, saat aku sakit, apa kalian menjengukku??” kataku dengan emosi
“He,,Ini semua gara-gara Putri, coba kalau dia mengaku kalah, pasti hal ini tidak akan terjadi.” kata Tari menimpakan kesalahan kepada Putri
“Kenapa gara-gara aku? Ini juga kesalahanmu!” kata Putri membela diri
“Cukup!!! Aku menyerah!!! kalian sama-sama keras kepala!!!” kataku putus asa dan langsung pulang ke rumah

Saat kembali masuk sekolah, aku melihat Tari. Sekarang dia tidak peduli dengan fashion lagi, rambutnya tidak disisir rapi seperti dulu dan lebih mementingkan belajarnya . Beda dengan Putri, dia selalu memerhatikan fashionnya, tetapi sekarang dia menjadi siswa yang malas belajar.

Dua minggu telah berlalu, aku stres memilih siapa yang akan menjadi juara karena mereka berdua adalah sahabatku.
“Sahabat-sahabatku yang tercinta, aku akan mengumumkan hasil dari pertandingan yang telah kalian lalui.” kataku dengan hati bimbang
“Tidak usah bertele-tele, langsung saja pada intinya…” kata Tari tidak sabar
“Baiklah, aku pikir kalian tidak menjalankan pertandingan ini dengan sempurna.” kataku dengan kecewa
“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Putri
“Coba kalian lihat diri kalian sendiri. Putri tidak memerhatikan fashionnya dan hanya fokus dengan belajarnya. Sedangkan Putri tidak memerhatikan belajarnya dan hanya fokus dengan fashionnya. Jadi hasilnya imbang.” jelasku
“Huu… juri macam apa kamu itu Ri!!!” kata Tari menyalahkanku
“Kalau kalian tidak puas, ya terserah!!!” bentakku

Di rumah, aku menangis penuh kesedihan. Aku tambah bersedih  ketika keluargaku memutuskan untuk pergi ke kota demi pekerjaan ayah dan aku disarankan untuk ikut karena menurut mereka sekolah di kota lebih terjamin kualitasnya. Apa aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku. Walaupun mereka telah memperlakukanku tidak baik, mereka tetaplah sahabatku. Aku akan mengumpulkan mereka di rumahku, akan berpisahan dengan mereka, dan itu sudah cukup menyedihkan untuk membuat mereka kembali seperti dulu lagi.
“Aku mengumpulkan kalian disini, hanya untuk berpisahan dengan kalian.” kataku sedih
“Memangnya kau mau kemana Ri?” tanya Putri
“Aku akan pergi jauh” jawabku singkat
“Dan kau akan melupakan kami?” tanya Tari
“Mungkin,” jawabku dengan sedikit bimbang
“Apa kau tak bisa tinggal lebih lama?” tanya Putri
“Aku bisa tinggal lebih lama.”
“Lalu kenapa kau memilih untuk pergi?”
“Bagaimana aku bisa tetap tinggal, kalau tak ada keluarga ataupun sahabat di sisiku. Kalian mengaku sebagai sahabatku, tetapi kenyataannya!! Kalian malah sering membuat aku sedih.” jelasku panjang lebar.
Mereka tertegun dengan ucapanku dan langsung minta maaf kepadaku.
“Maafkan kami Ri,, kami sangat menyesal…” kata Putri
“Iya Ri,,apa yang bisa kami lakukan agar kau tidak pergi Ri?”
“Aku ingin kalian kembali seperti dulu lagi…apa kalian bisa?”
“Kami akan berusaha!!” kata mereka dengan kompak
Kami berpegang tangan dan saling berpelukan dengan haru dan gembira. Karena sangat haru, aku menangis dan menghabiskan satu kotak tisu.
“Ri, jangan kau habiskan tisunya, aku nanti juga mau nangis, aku tidak kebagian dong,” kata Putri mengejekku
“Sudahlah Put, jangan cari gara-gara.” kata Tari
“Hahahahahaha…” akhirnya kami tertawa seperti dulu lagi

Tari mulai menyanyi tak jelas, tapi akhirnya kami bernyanyi bersama-sama dengan tentram. Lagunya Mitha “Tentang Mimpiku”.
*Aku berjanji sampai tua nanti
 Akan selalu ada jika kau butuh
 Dan bila nanti dunia tak mengerti
 Berpalinglah padaku
 Tempat teraman untuk dirimu
*Kau tak sendiri
 Ku selalu bersamamu
 Temani aku
 Sampai habisnya waktu

~^THE END^~



*Jangan berjalan dibelakangku, karena aku tak sanggup membawamu
*Jangan juga berjalan didepanku, karena aku tak sanggup mengejarmu
*Berjalanlah disampingku karena engkau adalah sahabatku
So, jagalah sahabatmu agar tak menghilang dari kehidupanmu
  


Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar